Kamis, 29 Mei 2014

Indonesian Kopite Story.

Sore itu, setelah mandi karena baru pulang bermain futsal, saya menyibukkan diri sendiri dengan bermain handphone. Biasa nya saya hanya membalas pesan yang masuk atau sekedar ‘bermain’ di dunia maya, mencari tahu hal-hal apa saja yang sudah saya lewatkan selama beberapa jam yang saya habiskan untuk bermain futsal. Mungkin saya terkena Fomophobia (Fear of missing out phobia) atau lebih sederhana nya ‘takut ketinggalan berita’ :))) 

Saat sedang asik membaca timeline di Twitter, mata saya terpaku pada sebuah tweet dari @aMrazing dengan menyertakan hastag #InggrisGratis. “Apa nih?” Tentu saja saya ingin tahu. Setelah stalking beberapa tweet nya, saya menemukan link yang ternyata itu adalah sebuah event (saya tidak tahu tepat nya, mungkin bisa dibilang lomba) menulis yang diadakan oleh @MisterPotato_ID dan berhadiah jalan-jalan dengan destinasi ke Inggris.
“Waw” saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang saya lihat. “Inggris gratis.. Inggris gratis” kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala saya. Bayangkan saja, jika anda adalah seorang yang memimpikan sesuatu yang mungkin bagi anda terlalu mustahil untuk didapat, dan tiba-tiba anda menemukan suatu cara untuk meraih mimpi itu, bagaimana mungkin anda tidak senang? Bagaimana mungkin anda tidak menjadi ‘norak’ seperti saya? Kalau untuk dikatakan ‘norak’ mungkin memang betul, saya bahkan belum pernah jalan-jalan dengan destinasi ke luar negeri.  Tentu tidak semua orang termasuk saya, dilahirkan dari keluarga yang royal, yang mungkin bagi mereka ke luar negeri itu sama seperti Jakarta - Bandung. Tentu tidak.

       Dari sekian banyak Negara untuk disinggahi sebagai destinasi jalan-jalan atau liburan, dalam daftar impian saya, Inggris ada di urutan pertama diatas Amerika. Karena apa? Karena banyak sekali tempat-tempat menarik yang ingin saya kunjungi disana. Saya memang tidak mengenal  Inggris luar dan dalam, karena saya bahkan belum pernah kesana. Saya juga tidak terlalu mengerti tentang tempat-tempat yang biasa orang kunjungi saat liburan ke Inggris seperti London eye, menara Big Ben, King’s Cross Station atau sebagai nya. Saya hanya membaca atau sekedar mencari tahu tempat apa itu lewat internet. Tapi yang saya benar-benar tahu dan yakin akan tujuan saya ke Inggris tentu saja ‘Anfield’.

Anfield adalah salah satu stadion sepakbola di tanah Inggris. Bagi para pecinta dunia sepakbola khusus nya pencinta klub Liverpool tentu sudah tidak asing mendengar nama ini. Rumah bagi para pemain Liverpool ini memang sangat diimpikan Kopite (sebutan untuk pendukung Liverpool di luar Inggris) di seluruh dunia untuk bisa masuk dan ikut merasakan atmosfer saat klub kesayangan mereka bertanding. Saya yang hanya bisa menyaksikan mereka dari layar kaca saja bisa ikut membayangkan dan merasakan panas nya atmosfer disana.  Menit demi menit mereka bernyanyi, berteriak, dan mengibarkan bendera, seakan seperti mengajak “kemari lah, kita dukung para pemain ini”. Oh my god, I’ll be there.  Sebuah pepatah pernah mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang’, oleh karena itu saya akan menceritakan sedikit kisah bagaimana saya bisa jatuh cinta dengan Liverpool dan dunia sepakbola.

Begini…

Saat saya masih kecil, saya hidup di dalam sebuah asrama yang isi nya semua adalah anak laki-laki. Setiap hari nya kegiatan kita selalu monoton, bangun pagi – sekolah – belajar – tidur – bangun lagi. Di setiap sore hari sehabis belajar, anak-anak selalu bermain di sekitar asrama. Saya dan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama selalu menyempatkan bermain sepakbola. Kecintaan saya terhadap sepakbola memang bukan hal yang baru, tapi sudah sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu saya hanya mengerti asik nya bermain tapi tidak mendalami tentang dunia sepakbola, sampai suatu hari kebiasaan saya membaca koran di setiap pagi sehabis pulang dari gereja mengenalkan saya pada Liverpool. Setiap minggu pagi saya selalu melakukan hal yang sama, duduk di depan rumah pastur dan membaca Koran mencari topik terbaru seputar Liverpool. Sayang nya, tidak setiap minggu nya ada koran yang mengangkat topik tersebut. Tapi rasa ingin tau saya tentang dunia sepakbola cukup dalam dan membuat saya tetap membaca apapun artikel yang disediakan.

Hari sabtu  seperti surga bagi kita. Karena keesokan hari nya bukan hari sekolah, kami dibebaskan bermain seharian. Pada malam hari, kita biasa nya berkumpul di ruangan yang cukup besar dan dengan TV yang ukuran layar nya cukup lebar. Tidak seperti layar bioskop, tapi cukup untuk bisa kami nikmati bersama. Yang jadi masalah adalah,TV yang hanya 1 dan ditonton oleh sekian banyak anak, berarti kita hanya menikmati satu acara saja, itu pula tergantung voting dari anak-anak. Ada yang ingin menonton acara A, lalu kalau di acara A sedang iklan, mereka ganti channel  ke acara B, begitu seterusnya. Lucu nya, anak-anak yang menyukai sepakbola biasa nya mendominasi peraihan voting, termasuk saya. Saat itu, saya memang suka bermain sepakbola, membaca artikel tentang sepakbola, tapi ketika menonton pertandingan sepakbola di TV saya tidak begitu suka. Yang ada saya selalu tertidur sebelum pertandingan nya selesai. Bukan apa-apa, nama nya juga masih kecil, kalau disuguhi acara seperti itu ya wajar :)))

Mulai beranjak remaja, kecintaan saya terhadap dunia sepakbola sudah setingkat lebih maju. Hal memalukan seperti ketiduran saat nonton bola sudah hilang. Saya aktif dalam ekskul sepakbola di sekolah. Bahkan menjadi pilihan utama dalam skuad untuk lomba setengah tahunan antar kelas. Tapi satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah saat nama saya tidak terpanggil untuk masuk ke dalam tim untuk Pekan Olahraga Nasional. Kecewa. Dan saya masih ingat betul kata-kata guru yang melatih saya “Kamu main bola nya memang bagus, tapi tadi saya lihat kamu gak ada semangat”. Betul apa yang dikatakan beliau, apalah arti nya skill yang bagus kalau tidak didasari dengan semangat. Belajar dari pengalaman, saya selangkah demi langkah menjadi dewasa.

Memasuki dunia SMA berarti lebih mengenal lagi apa itu sepakbola. Jelas saja, 8 dari 10 anak laki-laki di sekolah pasti menyukai sepakbola. Obrolan seputar sepakbola sudah menjadi makanan sehari-hari, seperti ada yang kurang lengkap kalau sehari saja tidak menyinggung masalah itu :)))
Di SMA pula saya menemukan banyak orang yang mencintai Liverpool seperti saya. Bukan cuma asal mendukung, tapi benar-benar mengerti. Saya jadi ingat moment dimana saya terpesona dengan antusias para pendukung Liverpool pada malam itu. Saat tim kesayangan kita sedang terpuruk, kita menyanyi, berteriak, menaikan scarf, dan begitu sampai pertandingan nya selesai. Padahal kita tidak sedang menyaksikan Liverpool secara langsung, kita hanya melihat mereka lewat layar yang lebar. Saya benar-benar kagum. Ternyata jauh yang lebih mencintai Liverpool dibandingkan saya.
Tapi ada moment yang menyedihkan, saat saya tidak bisa menyaksikan Liverpool saat menjalani tour pra musim mereka di Indonesia. Hari itu bertabrakan dengan jadwal kuliah saya, dan dengan terpaksa harus menjual tiket yang sudah saya beli. Akibat nya saya hanya menonton lewat TV dan iri saat teman-teman saya memamerkan foto-foto mereka saat menonton dan bahkan saat menemui pemain nya secara langsung.

So, kenapa saya harus ke inggris?

Tentu nya semua orang yang mengikuti event ini punya tujuan yang sama seperti saya, yaitu bisa jalan-jalan ke inggris. Dan tidak mudah untuk saya untuk mencapai tujuan itu. Bermacam-macam alasan pun pasti dilontarkan oleh mereka yang mengikuti event ini. Alasan saya sendiri sederhana, saya ingin sekali melihat dan menikmati indah nya Inggris, menghirup bersih nya udara disana, sesekali memejamkan mata sambil dihembus dingin nya udara di Inggris. Terlelap di taman diantara bangunan-bangunan tua Inggris. Terlalu berlebihan tapi memang begitu yang sedang saya bayangkan sekarang J

Lebih spesifik dan tanpa mengurangi rasa kagum saya terhadap Inggris, tujuan saya mengikuti event ini tentu nya adalah bisa menapakkan kaki saya di rumput Anfield, berjalan mengitari sudut demi sudut stadion, mengabadikan beberapa moment saat saya sedang berada disana. Jika saja hari itu adalah hari keberuntungan saya, saya ingin menemui langsung semua pemain Liverpool, bertatap muka walaupun tidak bisa berbicara terlalu banyak karena kemampuan berbahasa Inggris saya yang minim dan juga coaching clinic untuk mengasah kemampuan bermain sepakbola. Tidak lupa untuk bersujud syukur atas karunia Tuhan dengan berlutut mencium rumput stadion Anfield.

Alasan lain nya saya mengikuti event ini adalah saya penggemar musik-musik dari Rolling Stones dan The Baetles. Kedua band ini sama-sama lahir di tanah Inggris. Liverpool dan The Beatles juga sudah seperti satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Disana pula terdapat The Beatles museum dan Abbey Road yang harus dikunjungi. Sangat menarik jika bisa mengabadikan moment saat bergaya seperti para personel The Beatles saat berjalan di Abbey Road :))

Ayah saya juga mencintai band-band luar negeri, seperti Rolling Stones, The Beatles, Oasis, Aerosmith, dll. Kecintaan saya terhadap Rolling Stones lahir karena melihat Ayah saya. Di setiap sudut kamar nya terdapat foto-foto para personel nya. Di rak meja nya juga terdapat barisan kaset-kaset pemusik yang disukai nya. Jika mimpi nya belum tercapai, biarlah saya yang mewujudkan mimpi itu.


Demikianlah cerita dan sedikit curahan hati. Terima kasih Mister Potato telah memberi harapan untuk bisa mewujudkan mimpi saya :))