Sore itu, setelah mandi karena baru pulang bermain
futsal, saya menyibukkan diri sendiri dengan bermain handphone. Biasa nya saya
hanya membalas pesan yang masuk atau sekedar ‘bermain’ di dunia maya, mencari
tahu hal-hal apa saja yang sudah saya lewatkan selama beberapa jam yang saya
habiskan untuk bermain futsal. Mungkin saya terkena Fomophobia (Fear of missing
out phobia) atau lebih sederhana nya ‘takut ketinggalan berita’ :)))
Saat sedang asik membaca timeline di Twitter, mata saya terpaku pada
sebuah tweet dari @aMrazing dengan menyertakan hastag #InggrisGratis. “Apa nih?” Tentu saja saya ingin tahu. Setelah
stalking beberapa tweet nya, saya
menemukan link yang ternyata itu adalah sebuah event (saya tidak tahu tepat
nya, mungkin bisa dibilang lomba) menulis yang diadakan oleh @MisterPotato_ID
dan berhadiah jalan-jalan dengan destinasi ke Inggris.
“Waw” saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang saya lihat.
“Inggris gratis.. Inggris gratis” kata-kata itu terus terngiang-ngiang di
kepala saya. Bayangkan saja, jika anda adalah seorang yang memimpikan sesuatu
yang mungkin bagi anda terlalu mustahil untuk didapat, dan tiba-tiba anda
menemukan suatu cara untuk meraih mimpi itu, bagaimana mungkin anda tidak
senang? Bagaimana mungkin anda tidak menjadi ‘norak’ seperti saya? Kalau untuk
dikatakan ‘norak’ mungkin memang betul, saya bahkan belum pernah jalan-jalan
dengan destinasi ke luar negeri. Tentu
tidak semua orang termasuk saya, dilahirkan dari keluarga yang royal, yang
mungkin bagi mereka ke luar negeri itu sama seperti Jakarta - Bandung. Tentu
tidak.
Dari sekian banyak Negara untuk disinggahi sebagai destinasi jalan-jalan
atau liburan, dalam daftar impian saya, Inggris ada di urutan pertama diatas
Amerika. Karena apa? Karena banyak sekali tempat-tempat menarik yang ingin saya
kunjungi disana. Saya memang tidak mengenal Inggris luar dan dalam, karena saya bahkan
belum pernah kesana. Saya juga tidak terlalu mengerti tentang tempat-tempat
yang biasa orang kunjungi saat liburan ke Inggris seperti London eye, menara
Big Ben, King’s Cross Station atau sebagai nya. Saya hanya membaca atau sekedar
mencari tahu tempat apa itu lewat internet. Tapi yang saya benar-benar tahu dan
yakin akan tujuan saya ke Inggris tentu saja ‘Anfield’.
Anfield adalah salah satu stadion sepakbola di tanah Inggris. Bagi para
pecinta dunia sepakbola khusus nya pencinta klub Liverpool tentu sudah tidak
asing mendengar nama ini. Rumah bagi para pemain Liverpool ini memang sangat
diimpikan Kopite (sebutan untuk pendukung Liverpool di luar Inggris) di seluruh
dunia untuk bisa masuk dan ikut merasakan atmosfer saat klub kesayangan mereka
bertanding. Saya yang hanya bisa menyaksikan mereka dari layar kaca saja bisa
ikut membayangkan dan merasakan panas nya atmosfer disana. Menit demi menit mereka bernyanyi, berteriak,
dan mengibarkan bendera, seakan seperti mengajak “kemari lah, kita dukung para
pemain ini”. Oh my god, I’ll be there.
Sebuah pepatah pernah mengatakan ‘tak
kenal maka tak sayang’, oleh karena itu saya akan menceritakan sedikit kisah
bagaimana saya bisa jatuh cinta dengan Liverpool dan dunia sepakbola.
Begini…
Saat saya masih kecil, saya hidup di dalam sebuah
asrama yang isi nya semua adalah anak laki-laki. Setiap hari nya kegiatan kita
selalu monoton, bangun pagi – sekolah – belajar – tidur – bangun lagi. Di
setiap sore hari sehabis belajar, anak-anak selalu bermain di sekitar asrama. Saya
dan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama selalu menyempatkan bermain
sepakbola. Kecintaan saya terhadap sepakbola memang bukan hal yang baru, tapi
sudah sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu saya hanya mengerti
asik nya bermain tapi tidak mendalami tentang dunia sepakbola, sampai suatu
hari kebiasaan saya membaca koran di setiap pagi sehabis pulang dari gereja
mengenalkan saya pada Liverpool. Setiap minggu pagi saya selalu melakukan hal
yang sama, duduk di depan rumah pastur dan membaca Koran mencari topik terbaru
seputar Liverpool. Sayang nya, tidak setiap minggu nya ada koran yang
mengangkat topik tersebut. Tapi rasa ingin tau saya tentang dunia sepakbola
cukup dalam dan membuat saya tetap membaca apapun artikel yang disediakan.
Hari sabtu seperti surga bagi
kita. Karena keesokan hari nya bukan hari sekolah, kami dibebaskan bermain
seharian. Pada malam hari, kita biasa nya berkumpul di ruangan yang cukup besar
dan dengan TV yang ukuran layar nya cukup lebar. Tidak seperti layar bioskop,
tapi cukup untuk bisa kami nikmati bersama. Yang jadi masalah adalah,TV yang
hanya 1 dan ditonton oleh sekian banyak anak, berarti kita hanya menikmati satu
acara saja, itu pula tergantung voting
dari anak-anak. Ada yang ingin menonton acara A, lalu kalau di acara A sedang iklan,
mereka ganti channel ke acara B, begitu seterusnya. Lucu nya, anak-anak
yang menyukai sepakbola biasa nya mendominasi peraihan voting, termasuk saya.
Saat itu, saya memang suka bermain sepakbola, membaca artikel tentang
sepakbola, tapi ketika menonton pertandingan sepakbola di TV saya tidak begitu
suka. Yang ada saya selalu tertidur sebelum pertandingan nya selesai. Bukan
apa-apa, nama nya juga masih kecil, kalau disuguhi acara seperti itu ya wajar
:)))
Mulai beranjak remaja, kecintaan saya terhadap dunia sepakbola sudah
setingkat lebih maju. Hal memalukan seperti ketiduran saat nonton bola sudah
hilang. Saya aktif dalam ekskul sepakbola di sekolah. Bahkan menjadi pilihan
utama dalam skuad untuk lomba setengah tahunan antar kelas. Tapi satu hal yang
tidak pernah saya lupakan adalah saat nama saya tidak terpanggil untuk masuk ke
dalam tim untuk Pekan Olahraga Nasional. Kecewa. Dan saya masih ingat betul
kata-kata guru yang melatih saya “Kamu main bola nya memang bagus, tapi tadi
saya lihat kamu gak ada semangat”. Betul apa yang dikatakan beliau, apalah arti
nya skill yang bagus kalau tidak didasari dengan semangat. Belajar dari
pengalaman, saya selangkah demi langkah menjadi dewasa.
Memasuki dunia SMA berarti lebih mengenal lagi apa itu sepakbola. Jelas
saja, 8 dari 10 anak laki-laki di sekolah pasti menyukai sepakbola. Obrolan
seputar sepakbola sudah menjadi makanan sehari-hari, seperti ada yang kurang
lengkap kalau sehari saja tidak menyinggung masalah itu :)))
Di SMA pula saya menemukan banyak orang yang mencintai Liverpool seperti
saya. Bukan cuma asal mendukung, tapi benar-benar mengerti. Saya jadi ingat
moment dimana saya terpesona dengan antusias para pendukung Liverpool pada
malam itu. Saat tim kesayangan kita sedang terpuruk, kita menyanyi, berteriak,
menaikan scarf, dan begitu sampai pertandingan nya selesai. Padahal kita tidak
sedang menyaksikan Liverpool secara langsung, kita hanya melihat mereka lewat
layar yang lebar. Saya benar-benar kagum. Ternyata jauh yang lebih mencintai
Liverpool dibandingkan saya.
Tapi ada moment yang menyedihkan, saat saya tidak bisa menyaksikan
Liverpool saat menjalani tour pra musim mereka di Indonesia. Hari itu bertabrakan
dengan jadwal kuliah saya, dan dengan terpaksa harus menjual tiket yang sudah
saya beli. Akibat nya saya hanya menonton lewat TV dan iri saat teman-teman
saya memamerkan foto-foto mereka saat menonton dan bahkan saat menemui pemain
nya secara langsung.
So, kenapa saya harus ke inggris?
Tentu nya semua orang yang mengikuti event ini
punya tujuan yang sama seperti saya, yaitu bisa jalan-jalan ke inggris. Dan
tidak mudah untuk saya untuk mencapai tujuan itu. Bermacam-macam alasan pun
pasti dilontarkan oleh mereka yang mengikuti event ini. Alasan saya sendiri
sederhana, saya ingin sekali melihat dan menikmati indah nya Inggris, menghirup
bersih nya udara disana, sesekali memejamkan mata sambil dihembus dingin nya
udara di Inggris. Terlelap di taman diantara bangunan-bangunan tua Inggris.
Terlalu berlebihan tapi memang begitu yang sedang saya bayangkan sekarang J
Lebih spesifik dan tanpa mengurangi rasa kagum saya terhadap Inggris,
tujuan saya mengikuti event ini tentu nya adalah bisa menapakkan kaki saya di
rumput Anfield, berjalan mengitari sudut demi sudut stadion, mengabadikan beberapa
moment saat saya sedang berada disana. Jika saja hari itu adalah hari
keberuntungan saya, saya ingin menemui langsung semua pemain Liverpool,
bertatap muka walaupun tidak bisa berbicara terlalu banyak karena kemampuan
berbahasa Inggris saya yang minim dan juga coaching
clinic untuk mengasah kemampuan bermain sepakbola. Tidak lupa untuk bersujud syukur atas karunia Tuhan dengan
berlutut mencium rumput stadion Anfield.
Alasan lain nya saya mengikuti event ini adalah saya penggemar
musik-musik dari Rolling Stones dan The Baetles. Kedua band ini sama-sama lahir
di tanah Inggris. Liverpool dan The Beatles juga sudah seperti satu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan. Disana pula terdapat The Beatles museum dan Abbey
Road yang harus dikunjungi. Sangat menarik jika bisa mengabadikan moment saat bergaya
seperti para personel The Beatles saat berjalan di Abbey Road :))
Ayah saya juga mencintai band-band luar negeri, seperti Rolling Stones, The
Beatles, Oasis, Aerosmith, dll. Kecintaan saya terhadap Rolling Stones lahir
karena melihat Ayah saya. Di setiap sudut kamar nya terdapat foto-foto para
personel nya. Di rak meja nya juga terdapat barisan kaset-kaset pemusik yang
disukai nya. Jika mimpi nya belum tercapai, biarlah saya yang mewujudkan mimpi
itu.
Demikianlah cerita dan sedikit curahan hati. Terima kasih Mister Potato
telah memberi harapan untuk bisa mewujudkan mimpi saya :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar