Rabu, 26 November 2014

Antara Buta Atau Gengsi



Bak sebuah pesawat terbang dengan 2 pilot yang handal dan teknisi yang memastikan mesin dalam kondisi baik-baik saja, musim lalu, pesawat Liverpool hampir selesai mengelilingi dunia, hanya saja diakhir perjalanannya, mesin pesawat seperti kehabisan bensin dan memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya di perbatasan akhir sebelum selesai mengelilingi dunia. Betul kata Ariana Grande “almost is never enough”.

Musim ini, dengan sebagian teknisi baru, Liverpool memutuskan kembali untuk menyelesaikan impian mereka yang “hampir” itu. Sang kapten, pilot utama Brendan Rodgers bergerak cepat di bursa musim panas  kemarin. Dengan dana pengeluaran yang mencapai sekitar 120 juta poundsterling, sang kapten berhasil menggaet Dejan Lovren, Rickie Lambert, Lazar Markovic, Divock Origi, Emre Can, Adam Lallana, Mario Balotelli, menarik kembali Fabio Borini serta meminjam Alberto Moreno dan Manquillo dari pesawat mereka sebelumnya.  Sayangnya, setiap yang datang pasti ada pula yang pergi. Musim ini  Livepool harus kehilangan Daniel Agger yang memutuskan kembali sebagai teknisi di pesawat lamanya, Martin Kelly teknisi tampan yang dijual ke pesawat Crystal Palace, Aly Cissokho teknisi dengan sejuta pesonanya musim lalu juga berlabuh di pesawat Aston Villa. Iago Aspas, Victor Moses,  sama Luis Alberto bisa di-skip aja lah ya? Yang paling berpengaruh tentu saja Liverpool kehilangan sang teknisi yang siap dalam apapun kondisi pesawatnya. Suarez. Jika pesawat sedang bermasalah, dan teknisi lain tidak bisa membetulkan jalannya mesin, Suarez datang sebagai penyelamat. Dengan segala keahliannya, Suarez juga membantu teknisi lain untuk menyelamatkan pesawat dari kerusakan. Tercatat musim kemarin Liverpool berhasil membuat 101 gol dengan Suarez sebagai top skor lewat 31 golnya, diikuti dengan Daniel Sturridge dengan 21 gol dibelakangnya. Hasil yang fantastik tentunya. Dengan segala kontroversi dan juga keahliannya, pesawat Barcelona berani membayar sang teknisi untuk bergabung dengan mereka. Seharga 70 juta pun dikeluarkan. Setelah resmi bergabung, Suarez sempat kembali ke Anfield. Bukan, bukan karena tidak sanggup meninggalkan Liverpool, melainkan hanya untuk mengambil pakaiannya saja yang tertinggal disana dan mengabadikan moment terakhir ia bersama sang kapten, Gerrard.

Seiring berjalannya waktu, Liverpool yang musim lalu sangat ketergantungan Suarez dengan memasang dirinya disetiap pertandingan mulai merasakan efek sampingnya. Pesawat terbang tidak stabil di musim ini. Diawal penerbangan, memang Liverpool begitu meyakinkan dengan mengalahkan Southampton 2-1 tapi setelahnya Liverpool kembali dihajar sang juara bertahan Manchester City 3-1, lalu kembali melampiaskan kekalahan kepada Tottenham Hotspur dengan menjejalkan 3 gol tanpa balas di gawang mereka, tapi Aston Villa kembali mempermalukan Liverpool 0-1 di kandang mereka. Melihat rentetan hasil ini, masalah sebenernya mulai terlihat. Mari saya bahas.

Pada bursa transfer musim panas kemarin, sang manager Brendan Rodgers membeli begitu banyak pemain. Tentunya maksud sang pelatih adalah untuk menjaga kedalam skuad, karena Liverpool memang kembali ke Liga Champions pada musim ini. Tapi entah apa yang dipikirkan pelatih dan juga para petinggi Liverpool, kedalaman skuad yang mereka maksud adalah dengan membeli para pemain muda berpotensi yang pada akhirnya harapan mereka sang pemain bisa menjadi pemain jangka panjang untuk Liverpool. Tapi justru disini saya sebagai pengamat (abal-abal) dan juga pendukung merasa kurang yakin. Karena apa? Sekumpulan pemain yang Liverpool beli adalah pemain muda yang bahkan belum lama bersinar dan punya pengalaman cukup di Liga Champions. Jika pun ada yang sudah terlihat mumpuni,  ia adalah Mario Balotelli seorang, padahal maksud sang manager membeli mereka adalah untuk menjaga kedalaman skuad karena Liga Champions bukanlah liga yang sembarangan, pemain top Eropa berserakan disana layaknya sampah di Indonesia.

Lalu apa akibatnya?

Bergabung di Grup B bersama Real Madrid, FC Basel, dan Ludogoretz, Liverpool hanya meraih satu kali kemenangan dan satu kali hasil imbang. Dan total gol yang dilesatkan hanya 4, itu pun semuanya bersarang di gawang Ludogoretz, klub yang saya baru pernah dengar namanya. Bahkan sampai matchday ke-5 ini, Liverpool masih harus berjuang keras untuk memperebutkan tiket terakhir dengan kembali melawan FC Basel pada 9 Desember mendatang di Anfield. Tidak boleh ada hasil imbang apalagi kalah, menang adalah satu-satunya jalan agar Liverpool masih bisa bernafas lebih panjang di Liga Champions, minimal masuk babak 16 besar. Entah akan bertemu siapa nanti, saya tidak berharap dipertemukan dengan Bayern Muenchen atau Barcelona, karena sudah malas melihat Suarez mencetak gol dan memutuskan harapan, luka lama mendukung Inggris di World cup belum juga hilang.

Kalau begitu, apakah 120 juta terbuang sia-sia? Ah mungkin, masih ada harapan di liga Inggris kan? Kalau begitu mari saya bahas.

Setelah rentetan hasil yang tidak stabil tadi, Liverpool kembali harus kehilangan Daniel Sturridge, harapan satu-satunya di Lini depan. Belum ada yang bisa diandalkan di lini depan. Balotelli, Lambert dan Borini belum menemukan permainan terbaik mereka. Padahal di klub sebelumnya, Rickie Lambert adalah ujung tombak yang tajam, dan saat dipinjamkan ke Sunderland, Borini juga dipercaya menjadi penghukum bagi bek-bek yang lengah. Mario Balotelli pun begitu. Tapi di Liverpool semuanya berubah menjadi tumpul, setumpul…. Ya gitulah.

Dipercaya oleh Rodgers menjadi single striker di setiap laga, Balotelli adalah harapan besar untuk Liverpool. Pun fans pasti mempunyai harapan yang tinggi terhadap Balotelli. Tapi bahkan sebiji gol pun belum disarangkan Balotelli di liga Inggris. Ada apa? Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tau kebenarannya. Seiring Balotelli cedera, Lambert pun dipercaya menjadi harapan. Alhasil ia bisa mencetak gol melawan Crystal Palace kemarin, walaupun pada akhirnya Liverpool harus keluar lapangan dengan diam tanpa kata setelah papan skor menunjukkan hasil 3-1 untuk Palace. Lambert pun kembali menyumbang gol saat melawan Ludogoretz tadi malam, setelah itu kembali Liverpool harus menerima hasil yang kurang memuaskan setelah melihat papan skor menunjukkan 2-2 di akhir pertandingan. Tapi ada sisi positif yang bisa kita lihat disini, bahwa Lambert mungkin bisa diandalkan menjadi ujung tombak Liverpool.

Mundur ke posisi dibelakangnya. Midfielder. Saya harus mengatakan ini walau berat rasanya. Bahwa, sepertinya Rodgers harus mencoba menyimpan Steven Gerrard di bangku cadangan. Atau, jangan pernah menjadikan Steven Gerrard sebagai Defending Midfielder. Karena pada statistic yang saya dapat, sang kapten mengalami penurunan jauh kalau kita bandingakan dengan musim lalu. Mungkin Brendan Rodgers bermaksud menjadikan Gerrard sebagai pengatur serangan dan bisa membantu lini pertahanan Liverpool, tapi sampai matchday 12 kita bisa melihat kalau tidak ada variasi serangan pada Liverpool. Bahkan, dengan memarking Gerrard, serangan Liverpool seperti dikunci saat melawan Aston Villa pada September yang lalu. Joe Allen dan Emre Can jauh lebih baik di posisi ini, tapi Rodgers tetap pada pendiriannya. Ya sudahlah.

Masuk ke barisan pertahanan. Ini sangat rapuh. Lapuk. Masalah yang belum juga menemukan solusinya.
Pada musim kemarin, Liverpool mungkin duduk di peringkat 2 klasmen. Tapi itu juga berkat duet maut SAS yang dapat membalas setiap gol yang bersarang di gawang Liverpool. Seseorang pernah berkata “ klub yang kebobolan lebih dari 50 gol, tidak pantas duduk di posisi 2” benar memang. Beruntung kita memiliki SAS.
Musim ini Liverpool memiliki Dejan Lovren, Martin Skrtel, Glen Johnson, Alberto Moreno, Manquillo, Enrique, Flanagan, Kolo Toure dan Sakho. Tidak ada yang meragukan kemampuan mereka sebenarnya, tapi sampai matchday 12 ini Liverpool selalu kebobolan, hanya melawan Hull City dan Tottenham saja Liverpool mampu merain clean sheet. Yang lebih buruknya, Liverpool hampir selalu kebobolan pada 10 menit terakhir. Bisa kita lihat apa yang sudah terjadi saat melawan Everton, QPR, dan Crystal Palace itu sungguh membuat KZL kan? Saat melawan Downing dkk kita bahkan kebobolan 2 gol di 10 menit awal. Lebih parah.
 Sayang Sakho dan Flanagan cedera, padahal mereka adalah pejuang musim lalu yang sangat berjasa pula. Kolo Toure musim ini bermain bagus. Terlihat saat melawan Madrid, ia berhasil membuat CR7 frustasi dengan memarking ketat. Manquillo pun begitu. Tapi Rodgers selalu memainkan Glen Johnson dan Lovren sebagai starter. Padahal kita sebagai fans yang memang tidak lebih pintar dari Rodgers pun sudah tau kalo mereka pantas duduk di bangku cadangan, menemani sang kapten Steven Gerrard. Terlebih lagi Johnson selalu telat untuk mundur ke belakang. Memang tugas seorang full back adalah membantu serangan, tapi ia menganggap dirinya Lionel Messi. Lalu lupa kembali. Dan skenario terburuk pun terjadi, sang center back tidak mampu menutup ruang kosong yang ditinggalkan GLEN7O dan papan skor pun berubah 1-0. Mignolet memang tidak sepenuhnya pantas disalahkan atas apa yang terjadi  tapi sebagai seorang kiper, 50 kebobolan di musim lalu sudah menjawab semuanya.

Lalu apa solusinya?

Kita bisa lihat kalau Rodgers punya pendirian yang teguh, layak batu karang yang dihempas sang ombak. Tapi tetap memainkan Johnson, Lovren, Gerrard, dan Balotelli di setiap pertandingan bukanlah sebuah solusi. Rodgers seperti orang buta yang tidak melihat apa yang mereka lakukan dan ulangi di setiap pertandingannya. Kesalahan demi kesalahan yang sama selalu terlihat, tapi Rodgers tetap saja tidak terbantahkan. Emre Can bagus dalam menjaga kedalaman, saat melawan Chelsea kita bisa melihat itu. Pun Kolo toure dan Manquillo. Lambert juga sudah menunjukkan bukti bahwa ia lebih pantas dipilih sebagai starter daripada Balotelli dalam 2 pertandingan sebelumnya.

Lalu pergantian pemain yang tidak tepat juga masalah. Seperti contoh pada saat melawan Crystal Palace kemarin Lallana bermain sangat baik dengan memberikan assist kepada Lambert, tapi Rodgers malah mengganti Lallana bukan Sterling yang pada saat itu tidak diketahui keberadaanya di lapangan. Masalah seperti ini hanya Rodgers yang punya kendali, kita sebagai penonton hanya bisa ngetweet.

Lalu bergerak cepat di bursa transfer musim dingin mendatang. Ini penting bagi kita Liverpool. Menutup posisi yang rapuh dengan membeli pemain yang bagus di posisinya. Seperti contoh kiper, kita harus melirik beberapa kiper bagus yang kurang digunakan dalam klubnya, seperti Petr Cech. Lupakan sementara rivalitas, ini soal memperbaiki tim. Lalu kalau lini depan tidak kunjung membaik, kita juga harus membeli pemain dengan kelas bintang. Ibaratnya, lebih baik seorang Megan Fox daripada satu kompi anak JKT48. #apeuh

Skenario terburuk jika Rodgers masih belum bisa memperbaiki apa yang sudah diperbuatnya, mungkin petinggi Liverpool akan mencari solusi pelatih baru. Jurgen Klopp dan Rafel Benitez yang gencar diperbincangkan baru-baru ini. Tapi untuk saat ini, saya masih percaya dengan Rodgers. Karena setiap kegagalan pasti akan menemukan jawaban. Atau mungkin Rodgers harus segera berdamai dengan istri tuanya. Siapa tau ini doanya dia kan...

Mungkin segitu dulu kesotoyan ini. Sebagai penggemar saya tidak ingin club yang saya banggakan jatuh terpuruk. Tapi juga salah kalau kita hanya memberikan komentar positif atas kesalahan-kesalahan yang sama yang sudah dilakukan dan diulangi. Mengkritik itu penting. Tapi tentu dengan batas-batas yang wajar.
Mohon maaf jika ada yang salah. Sesungguhnya kebenaran hanya milik Tuhan semata. 
Sekian. Salam olahraga.