Bak sebuah pesawat
terbang dengan 2 pilot yang handal dan teknisi yang memastikan mesin dalam
kondisi baik-baik saja, musim lalu, pesawat Liverpool hampir selesai
mengelilingi dunia, hanya saja diakhir perjalanannya, mesin pesawat seperti
kehabisan bensin dan memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya di perbatasan
akhir sebelum selesai mengelilingi dunia. Betul kata Ariana Grande “almost is
never enough”.
Musim ini, dengan
sebagian teknisi baru, Liverpool memutuskan kembali untuk menyelesaikan impian
mereka yang “hampir” itu. Sang kapten, pilot utama Brendan Rodgers bergerak
cepat di bursa musim panas kemarin.
Dengan dana pengeluaran yang mencapai sekitar 120 juta poundsterling, sang
kapten berhasil menggaet Dejan Lovren, Rickie Lambert, Lazar Markovic, Divock
Origi, Emre Can, Adam Lallana, Mario Balotelli, menarik kembali Fabio Borini serta
meminjam Alberto Moreno dan Manquillo dari pesawat mereka sebelumnya. Sayangnya, setiap yang datang pasti ada pula
yang pergi. Musim ini Livepool harus
kehilangan Daniel Agger yang memutuskan kembali sebagai teknisi di pesawat
lamanya, Martin Kelly teknisi tampan yang dijual ke pesawat Crystal Palace, Aly
Cissokho teknisi dengan sejuta pesonanya musim lalu juga berlabuh di pesawat
Aston Villa. Iago Aspas, Victor Moses, sama
Luis Alberto bisa di-skip aja lah ya? Yang paling berpengaruh tentu saja Liverpool
kehilangan sang teknisi yang siap dalam apapun kondisi pesawatnya. Suarez. Jika
pesawat sedang bermasalah, dan teknisi lain tidak bisa membetulkan jalannya
mesin, Suarez datang sebagai penyelamat. Dengan segala keahliannya, Suarez juga
membantu teknisi lain untuk menyelamatkan pesawat dari kerusakan. Tercatat
musim kemarin Liverpool berhasil membuat 101 gol dengan Suarez sebagai top skor
lewat 31 golnya, diikuti dengan Daniel Sturridge dengan 21 gol dibelakangnya. Hasil
yang fantastik tentunya. Dengan segala kontroversi dan juga keahliannya,
pesawat Barcelona berani membayar sang teknisi untuk bergabung dengan mereka.
Seharga 70 juta pun dikeluarkan. Setelah resmi bergabung, Suarez sempat kembali
ke Anfield. Bukan, bukan karena tidak sanggup meninggalkan Liverpool, melainkan
hanya untuk mengambil pakaiannya saja yang tertinggal disana dan mengabadikan
moment terakhir ia bersama sang kapten, Gerrard.
Seiring berjalannya
waktu, Liverpool yang musim lalu sangat ketergantungan Suarez dengan memasang
dirinya disetiap pertandingan mulai merasakan efek sampingnya. Pesawat terbang
tidak stabil di musim ini. Diawal penerbangan, memang Liverpool begitu
meyakinkan dengan mengalahkan Southampton 2-1 tapi setelahnya Liverpool kembali
dihajar sang juara bertahan Manchester City 3-1, lalu kembali melampiaskan
kekalahan kepada Tottenham Hotspur dengan menjejalkan 3 gol tanpa balas di
gawang mereka, tapi Aston Villa kembali mempermalukan Liverpool 0-1 di kandang
mereka. Melihat rentetan hasil ini, masalah sebenernya mulai terlihat. Mari
saya bahas.
Pada bursa transfer
musim panas kemarin, sang manager Brendan Rodgers membeli begitu banyak pemain.
Tentunya maksud sang pelatih adalah untuk menjaga kedalam skuad, karena
Liverpool memang kembali ke Liga Champions pada musim ini. Tapi entah apa yang
dipikirkan pelatih dan juga para petinggi Liverpool, kedalaman skuad yang
mereka maksud adalah dengan membeli para pemain muda berpotensi yang pada
akhirnya harapan mereka sang pemain bisa menjadi pemain jangka panjang untuk
Liverpool. Tapi justru disini saya sebagai pengamat (abal-abal) dan juga
pendukung merasa kurang yakin. Karena apa? Sekumpulan pemain yang Liverpool
beli adalah pemain muda yang bahkan belum lama bersinar dan punya pengalaman
cukup di Liga Champions. Jika pun ada yang sudah terlihat mumpuni, ia adalah Mario Balotelli seorang, padahal
maksud sang manager membeli mereka adalah untuk menjaga kedalaman skuad karena
Liga Champions bukanlah liga yang sembarangan, pemain top Eropa berserakan
disana layaknya sampah di Indonesia.
Lalu apa akibatnya?
Bergabung di Grup B
bersama Real Madrid, FC Basel, dan Ludogoretz, Liverpool hanya meraih satu kali
kemenangan dan satu kali hasil imbang. Dan total gol yang dilesatkan hanya 4,
itu pun semuanya bersarang di gawang Ludogoretz, klub yang saya baru pernah
dengar namanya. Bahkan sampai matchday ke-5 ini, Liverpool masih harus berjuang
keras untuk memperebutkan tiket terakhir dengan kembali melawan FC Basel pada 9
Desember mendatang di Anfield. Tidak boleh ada hasil imbang apalagi kalah,
menang adalah satu-satunya jalan agar Liverpool masih bisa bernafas lebih
panjang di Liga Champions, minimal masuk babak 16 besar. Entah akan bertemu
siapa nanti, saya tidak berharap dipertemukan dengan Bayern Muenchen atau Barcelona,
karena sudah malas melihat Suarez mencetak gol dan memutuskan harapan, luka
lama mendukung Inggris di World cup belum juga hilang.
Kalau begitu, apakah
120 juta terbuang sia-sia? Ah mungkin, masih ada harapan di liga Inggris kan? Kalau
begitu mari saya bahas.
Setelah rentetan hasil
yang tidak stabil tadi, Liverpool kembali harus kehilangan Daniel Sturridge,
harapan satu-satunya di Lini depan. Belum ada yang bisa diandalkan di lini
depan. Balotelli, Lambert dan Borini belum menemukan permainan terbaik mereka.
Padahal di klub sebelumnya, Rickie Lambert adalah ujung tombak yang tajam, dan
saat dipinjamkan ke Sunderland, Borini juga dipercaya menjadi penghukum bagi
bek-bek yang lengah. Mario Balotelli pun begitu. Tapi di Liverpool semuanya
berubah menjadi tumpul, setumpul…. Ya gitulah.
Dipercaya oleh Rodgers
menjadi single striker di setiap laga, Balotelli adalah harapan besar untuk
Liverpool. Pun fans pasti mempunyai harapan yang tinggi terhadap Balotelli.
Tapi bahkan sebiji gol pun belum disarangkan Balotelli di liga Inggris. Ada
apa? Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tau kebenarannya. Seiring Balotelli
cedera, Lambert pun dipercaya menjadi harapan. Alhasil ia bisa mencetak gol
melawan Crystal Palace kemarin, walaupun pada akhirnya Liverpool harus keluar
lapangan dengan diam tanpa kata setelah papan skor menunjukkan hasil 3-1 untuk
Palace. Lambert pun kembali menyumbang gol saat melawan Ludogoretz tadi malam,
setelah itu kembali Liverpool harus menerima hasil yang kurang memuaskan
setelah melihat papan skor menunjukkan 2-2 di akhir pertandingan. Tapi ada sisi
positif yang bisa kita lihat disini, bahwa Lambert mungkin bisa diandalkan
menjadi ujung tombak Liverpool.
Mundur ke posisi
dibelakangnya. Midfielder. Saya harus mengatakan ini walau berat rasanya.
Bahwa, sepertinya Rodgers harus mencoba menyimpan Steven Gerrard di bangku
cadangan. Atau, jangan pernah menjadikan Steven Gerrard sebagai Defending
Midfielder. Karena pada statistic yang saya dapat, sang kapten mengalami
penurunan jauh kalau kita bandingakan dengan musim lalu. Mungkin Brendan
Rodgers bermaksud menjadikan Gerrard sebagai pengatur serangan dan bisa
membantu lini pertahanan Liverpool, tapi sampai matchday 12 kita bisa melihat
kalau tidak ada variasi serangan pada Liverpool. Bahkan, dengan memarking
Gerrard, serangan Liverpool seperti dikunci saat melawan Aston Villa pada
September yang lalu. Joe Allen dan Emre Can jauh lebih baik di posisi ini, tapi
Rodgers tetap pada pendiriannya. Ya sudahlah.
Masuk ke barisan
pertahanan. Ini sangat rapuh. Lapuk. Masalah yang belum juga menemukan
solusinya.
Pada musim kemarin,
Liverpool mungkin duduk di peringkat 2 klasmen. Tapi itu juga berkat duet maut
SAS yang dapat membalas setiap gol yang bersarang di gawang Liverpool.
Seseorang pernah berkata “ klub yang kebobolan lebih dari 50 gol, tidak pantas
duduk di posisi 2” benar memang. Beruntung kita memiliki SAS.
Musim ini Liverpool
memiliki Dejan Lovren, Martin Skrtel, Glen Johnson, Alberto Moreno, Manquillo,
Enrique, Flanagan, Kolo Toure dan Sakho. Tidak ada yang meragukan kemampuan
mereka sebenarnya, tapi sampai matchday 12 ini Liverpool selalu kebobolan,
hanya melawan Hull City dan Tottenham saja Liverpool mampu merain clean sheet. Yang lebih buruknya,
Liverpool hampir selalu kebobolan pada 10 menit terakhir. Bisa kita lihat apa
yang sudah terjadi saat melawan Everton, QPR, dan Crystal Palace itu sungguh
membuat KZL kan? Saat melawan Downing dkk kita bahkan kebobolan 2 gol di 10
menit awal. Lebih parah.
Sayang Sakho dan
Flanagan cedera, padahal mereka adalah pejuang musim lalu yang sangat berjasa
pula. Kolo Toure musim ini bermain bagus. Terlihat saat melawan Madrid, ia
berhasil membuat CR7 frustasi dengan memarking ketat. Manquillo pun begitu.
Tapi Rodgers selalu memainkan Glen Johnson dan Lovren sebagai starter. Padahal
kita sebagai fans yang memang tidak lebih pintar dari Rodgers pun sudah tau
kalo mereka pantas duduk di bangku cadangan, menemani sang kapten Steven
Gerrard. Terlebih lagi Johnson selalu telat untuk mundur ke belakang. Memang
tugas seorang full back adalah membantu serangan, tapi ia menganggap dirinya
Lionel Messi. Lalu lupa kembali. Dan skenario terburuk pun terjadi, sang center
back tidak mampu menutup ruang kosong yang ditinggalkan GLEN7O dan papan skor
pun berubah 1-0. Mignolet memang tidak sepenuhnya pantas disalahkan atas apa
yang terjadi tapi sebagai seorang kiper,
50 kebobolan di musim lalu sudah menjawab semuanya.
Lalu apa solusinya?
Kita bisa lihat kalau
Rodgers punya pendirian yang teguh, layak batu karang yang dihempas sang ombak.
Tapi tetap memainkan Johnson, Lovren, Gerrard, dan Balotelli di setiap
pertandingan bukanlah sebuah solusi. Rodgers seperti orang buta yang tidak
melihat apa yang mereka lakukan dan ulangi di setiap pertandingannya. Kesalahan
demi kesalahan yang sama selalu terlihat, tapi Rodgers tetap saja tidak
terbantahkan. Emre Can bagus dalam menjaga kedalaman, saat melawan Chelsea kita
bisa melihat itu. Pun Kolo toure dan Manquillo. Lambert juga sudah menunjukkan
bukti bahwa ia lebih pantas dipilih sebagai starter daripada Balotelli dalam 2
pertandingan sebelumnya.
Lalu pergantian pemain
yang tidak tepat juga masalah. Seperti contoh pada saat melawan Crystal Palace
kemarin Lallana bermain sangat baik dengan memberikan assist kepada Lambert,
tapi Rodgers malah mengganti Lallana bukan Sterling yang pada saat itu tidak
diketahui keberadaanya di lapangan. Masalah seperti ini hanya Rodgers yang
punya kendali, kita sebagai penonton hanya bisa ngetweet.
Lalu bergerak cepat di
bursa transfer musim dingin mendatang. Ini penting bagi kita Liverpool. Menutup
posisi yang rapuh dengan membeli pemain yang bagus di posisinya. Seperti contoh
kiper, kita harus melirik beberapa kiper bagus yang kurang digunakan dalam
klubnya, seperti Petr Cech. Lupakan sementara rivalitas, ini soal memperbaiki
tim. Lalu kalau lini depan tidak kunjung membaik, kita juga harus membeli
pemain dengan kelas bintang. Ibaratnya, lebih baik seorang Megan Fox daripada
satu kompi anak JKT48. #apeuh
Skenario terburuk jika Rodgers masih belum bisa memperbaiki apa yang sudah diperbuatnya, mungkin petinggi Liverpool akan mencari solusi pelatih baru. Jurgen Klopp dan Rafel Benitez yang gencar diperbincangkan baru-baru ini. Tapi untuk saat ini, saya masih percaya dengan Rodgers. Karena setiap kegagalan pasti akan menemukan jawaban. Atau mungkin Rodgers harus segera berdamai dengan istri tuanya. Siapa tau ini doanya dia kan...
Mungkin segitu dulu
kesotoyan ini. Sebagai penggemar saya tidak ingin club yang saya banggakan
jatuh terpuruk. Tapi juga salah kalau kita hanya memberikan komentar positif
atas kesalahan-kesalahan yang sama yang sudah dilakukan dan diulangi.
Mengkritik itu penting. Tapi tentu dengan batas-batas yang wajar.
Mohon maaf jika ada
yang salah. Sesungguhnya kebenaran hanya milik Tuhan semata.
Sekian. Salam
olahraga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar