Selasa, 15 April 2014

Be Grateful

Kantin mulai terlihat ramai. Udara panas Bali rupa nya menambah panas suasana hati seseorang yang berada di ujung ruangan. Terlihat Nella wanita tomboy dengan rambut pendek nya memasang raut muka yang penuh kejengkelan. Sudah 10 menit berlalu sejak bel tanda istirahat berbunyi ia hanya duduk diam melihat Kelvin, pria blasteran indo – belanda menanggapi wanita – wanita yang sedari tadi mencoba mendapatkan perhatian nya.
“Apakah kau memanggil ku hanya untuk melihat mu dengan fans-fans fanatik mu ini?!” kata Nella sambil melempar  potongan pangsit yang baru saja dimakan nya mengenai kepala Kelvin.
“Hei, ada apa dengan mu?!” jawab nya sambil meminta para wanita itu untuk pergi. Logat dari darah keturunan barat nya masih sedikit terdengar.
Sejak acara festival band minggu lalu hingga sekarang Kelvin dan teman-teman nya jadi incaran para wanita. Band nya terpilih menjadi favorit pilihan penonton. Dia adalah teman Nella sejak kecil, orang tua mereka juga sudah akrab satu sama lain. Wajah nya juga bisa dibilang tampan, sesuai kriteria wanita – wanita yang menyukai pria tampan.
“Tidak ada kah cara yang lebih lembut, selain melempari ku dengan… pangsit?” Sambil membersihkan serpihan pangsit yang berhamburan di baju nya.
“Mungkin lain kali aku akan melempar mu dengan mangkok nya!” sahut nya jengkel. “Lalu apa tujuan mu memanggilku?”
“Ah betul juga, nanti sore kau ada rencana pergi?”
“Tidak ada, lalu?”
“Di depan toko buku sedang ada pembukaan Café baru, ah aku yakin mereka punya menu yang spesial” kata Kelvin
Nella menyipitkan mata nya. Ia mengerti ada maksud tersirat Kelvin mengiming – imingi nya dengan pembukaan sebuah café. Cara lama yang selalu ia pakai untuk membujuk Nella. “Sudahlah, katakan saja apa mau mu?”
“Ah rupa nya kau mengerti!” ekspresi senang terlihat di wajah Kelvin “Temani aku mencari pakaian untuk dance party besok malam”
Tepat seperti dugaan nya. Akhir – akhir ini, pesta dansa yang di adakan oleh Universitas mereka sedang ramai dibicarakan. Acara yang di adakan setahun sekali ini memang selalu populer.  
“Oh, kapan?” tanya nya datar
“Jam 3, nanti aku akan menjemput mu” jawab Kelvin “By the way, siapa pria yang sudah mengajak mu untuk acara besok?
“Tidak ada” sambil menghabiskan minum nya “Kau sendiri? Masih dengan Angel?”
Maybe”
Ada apa? Kau sudah mengajak nya bukan?”  Nella seperti ingin mencari tahu lebih
Ah sudahlah,” Kelvin beranjak dari tempat duduk nya “Kau sudah selesai? Aku akan membayar makanan ini dan kembali ke kelas, ada tugas yang harus ku kerjakan”
Yes please”  
                                                            ***
“Hey, apakah baju ini terlihat pantas untuk ku?” Tanya Kelvin sambil mengukur baju itu di badan nya. “Menurut mu motif ini bagus kan?”
Nella hanya mengerutkan dahi nya. Sudah berkali-kali Kelvin keluar masuk ruang ganti tapi tidak menemukan pakaian yang tepat. Menurut nya semua laki-laki itu sama saja. Mereka hanya tahu bagaimana cara memakai nya, tapi tidak punya selera yang bagus terhadap apa yang dipakai nya.
“Tidak” ia mengambil baju itu dari tangan Kelvin “Tunggulah sebentar, aku akan mencari kan satu untukmu”
Lalu Nella memilih satu dari sederet pakaian di samping nya. Ada satu pakaian yang menurut nya itu akan terlihat cocok dengan Kelvin.
“Cobalah” Sambil memberikan pakaian itu kepada Kelvin.
“Kau yakin?” tanya nya
“Ya, terlihat simple tapi tetap elegan dan stylish”
Kelvin mengambil pakaian itu dari tangan nella. Mengamati nya lalu mengukur nya.
“Sudahlah, cepat kau coba” ia mendorong Kelvin untuk masuk ke ruang ganti.
Sambil menunggu Kelvin, Nella melihat-melihat pakaian wanita yang digantungkan di sekitar nya. Ia tersenyum melihat pakaian lucu dengan aksesoris yang menempel disitu. Orang Bali memang pandai dan kreatif dalam menciptakan sesuatu.
“Mbak, saya mau cari dress dimana ya?” tepukkan tangan seseorang mengejutkan Nella
Ia mencari arah suara itu. Rupa nya seorang wanita dengan wajah manis Asia, berkulit putih dengan rambut panjang terurai yang baru saja memasuki butik itu mengira nya adalah seorang penjaga butik.
“Maaf, saya tidak tahu. Dan saya bukan seorang penjaga butik ini” Kata nya untuk meluruskan kesalah pahaman tadi.
“Oh maaf, maaf. Saya tidak tahu.” Wanita itu menundukkan kepala nya di depan Nella.
“Tidak apa –apa. Saya mengerti” Senyum Nella kepada wanita itu.
Wanita itu mengulurkan tangan nya, mencoba memperbaiki suasana “Saya Mika. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sini. Kamu?”
“Nella” Ia menjabat uluran tangan Mika “Kau sedang mencari apa disini?”
“Oh betul juga” Mika memukul pelan dahi nya. “Mencari dress”
“Mau aku bantu? Kebetulan aku sedang menunggu seseorang juga”
“Benarkah? Tentu saja”  Ekspresi senang terpancar dari wajah Mika. 
Beberapa menit kemudian Kelvin keluar dari ruang ganti dengan baju pilihan Nella. Tangan nya menarik –narik bagian bawah baju nya. Seakan merasa ragu. “Sudah pantaskah?”  Tapi Nella hilang, tidak ada di depan ruang ganti. Setelah mencari beberapa lama, ia menemukan Nella dengan seorang wanita asing sedang mengukur baju di tubuh nya.
“Dasar wanita” Kelvin hanya menggelengkan kepala nya.
                                                            ***
Sejuk nya udara pantai Bali memang menghipnotis siapa pun yang berada disana untuk tetap  tinggal dan menikmati nya. Tidak jauh dari sana ada Restaurant yang menyajizakan makanan sangat lezat. Tepat nya di daerah Nusa Dua, Kuta Selatan. Dengan latar suasana pantai, Hong Xing menjadikan The Bay Bali terasa begitu istimewa. Setelah dari butik tadi, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar disana.
So,” Kelvin berbicara kepada Mika yang baru saja dikenal nya beberapa jam yang lalu “Kau hanya tinggal berdua dengan kakak mu saja?”
Mulut nya masih mengunyah makanan. Ia lalu mengambil air putih yang berada dia atas meja, meneguk nya dan mencoba membalas pertanyaan yang diberikan kepada nya.
“Betul. Sejak Papa ku bercerai, Ibu tinggal di luar negeri bersama dengan pacar baru nya” Balas nya
“Oh maaf  soal itu. Sebagai orang yang baru dikenal tidak seharusnya aku mendengar itu”
“Tidak apa, menurut ku kalian bukan orang yang jahat”  Bibir Mika melengkungkan senyuman “Mmm, ngomong-ngomong makanan ini enak sekali” “Selera mu terhadap makanan bagus”
“Tentu saja, di The Bay Bali ini selain menyediakan makanan lezat mereka punya banyak sekali tempat yang bagus. Kadang keluarga ku menghabiskan weekend bermain di The Pirates Bay” “Ah, mungkin lain kali aku akan mengajak mu makan bebek lezat di Bebek Bengil” Begitu semangat nya ia bercerita, Kelvin terdengar seperti sedang promosi.
Nella yang sedari tadi diam mendengarkan kedua orang itu berbicara, akhirnya mulai bersuara “Kalau aku boleh tahu, untuk siapa kau membeli dress itu” Nella menunjuk bungkusan di samping Mika
“Oh ini untuk Ibu ku. Besok ia akan datang ke Indonesia,” ia diam sebentar lalu melanjutkan “Aku ingin menghadiahi nya sesuatu”
Tiba – tiba bunyi dering ponsel menyita perhatian mereka. Tatapan mata Mika lalu tertuju pada tas yang tergeletak di kursi sebelah nya. “Sebentar ya” Mika menjauh dari meja tempat mereka duduk, setelah sekitar 3 menit ia kembali. “Maaf, seperti nya aku ada kepentingan lain. Aku tidak bisa berlama-lama disini”
“Oh tidak apa-apa kita juga sudah selesai disini. Betul kan?” Tangan Kelvin memegang pundak Nella. Pegangan nya terasa agak keras.
“Tentu saja, kita juga sudah..,” Seutas senyuman paksa seperti nya sedang di tunjukkan Nella “Selesai. Iya selesai”
“Biarkan aku yang membayar semua nya, kau tenang saja” Kelvin begitu antusias
“Terima kasih. Ini nomor ponsel ku, hubungi aku jika ada waktu luang” Mika menulis kan nya di tissue.
Setelah meletakkan nya di meja, Mika lalu meninggalkan mereka berdua. Sosok nya hilang begitu melewati pintu. Nella mengelus pundak nya. Ia menatap Kelvin dengan tatapan tajam seperti ingin membalas apa yang di lakukan dia kepada nya. Tapi Kelvin yang melihat Nella seperti itu hanya cengengesan. “hehehe maaf”
                                                            ***
Nella merebahkan tubuh nya ditempat tidur. Mengejap kan mata nya sejenak. Ia lelah setelah hari ini menemani Kelvin. Tapi perasaan nya tidak baik, ia terus memikirkan sesuatu. Nella lalu beranjak, berjalan menuju meja rias nya. Ia bercermin. Tangan nya menyetuh bagian atas tubuh nya, pipi. “Apa aku kurang menarik?” Ia berbicara pada cermin di depan nya lalu menatap meja. Hanya ada sekotak peralatan rias yang masih tersimpan rapi. Belum pernah tersentuh. “Apa yang membedakan aku dengan wanita lain nya? Apa semua pria menyukai wanita yang feminim?” Besok adalah hari pesta dansa. Tentu nya sebagai wanita, ia iri melihat wanita lain sudah mendapat pasangan di hari itu.
Nella lalu meraih kotak peralatan rias itu. Membuka nya lalu mengambil satu per satu alat rias. Ia hanya diam. Bahkan untuk berias saja dia tidak bisa. Dilempar nya kotak itu ke lantai, lalu ia kembali merebahkan diri nya di tempat tidur.

                                                            ***
Suasana di ruangan itu mulai penuh dan ramai. Glamour nya pesta dansa itu terlihat seperti seluruh orang yang berada disana layak nya Prince and Princess dunia Disney. Semua terlihat anggun dan menawan. Diiringi alunan musik romantis begitu membuat semua nya terasa sempurna.
Kelvin mengangkat gelas nya, meneguk minuman yang sedari tadi di genggam nya. Mata nya menatap setiap sudut ruangan mencari seseorang, sahabat nya. Nella belum juga terlihat diantara kerumunan ini.
“Kau melihat Nella?” Tanya nya pada George seorang teman yang berada di samping nya.
“Tidak” Jawab nya
“Oh, thank  you”
Ia lalu keluar dari ruangan. Tangan nya meraih ponsel dari saku celana nya, mencoba menghubungi Nella. “Sial” tapi ponsel nya tidak bisa di hubungi.
                                                            ***
Ia berjalan menyusuri tepian pantai, diiringi dengan mentari senja di ufuk barat. Pasir dan air laut membuat gaun nya terasa basah dan ternoda. Ia tidak perduli, hanya terus berjalan dan kemudian memilih duduk di bangku kosong di dekat nya.
Mata nya sendu. Sejauh pandangan nya ia hanya melihat beberapa orang melakukan aktivitas pantai di sore hari, dan sekumpulan keluarga yang sedang menghabiskan waktu nya disana. Senang nya.
“Kenapa semua orang terlihat bahagia, saat aku tidak” ia cemburu
Belum lama ia terbawa oleh suasana, tepukan pundak seseorang membuat kesadaran nya kembali.
“Nella, what are you doing here?” Sapa orang itu dengan logat khas orang barat. Suara itu begitu familiar di telinga nya.
“Kelvin?” Ia menoleh “Apa yang kau lakukan disini?”
“Sejak tadi aku mencari mu, aku khawatir karena kau belum juga hadir di pesta dansa”
“Oh”
“Kenapa kau tidak mengikuti pesta nya? Disana sudah mulai ramai” Tanya nya
“Pesta hanya untuk orang yang sedang bahagia. Aku tidak”
“Maksud mu?” Kelvin mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Nella
“Aku tidak punya pasangan, tidak ada yang mau berdansa dengan ku” Jawab nya lirih. Tatapan nya tertuju kedepan, pada matahari yang hampir terbenam.
Kelvin hanya tersenyum mendengar perkataan nya. Ia lalu duduk di samping Nella. Ikut menyaksikan redup nya sang mentari.
“Apa kau tahu, hari ini tepat 5 tahun ibu ku meninggal. Pergi untuk selama nya”
Nella menatap Kelvin, terlihat bingung dengan apa yang di katakan nya.
“Kau ingat sekarang tanggal berapa?”
Ia semakin tidak mengerti apa maksud dari perkataan nya. Ia hanya menjawab sekena nya
“22 Desember”
Kelvin lalu menoleh. Menatap Nella dalam.
“Kau tidak bahagia hanya karena kau tidak memiliki pasangan di hari pesta dansa. Some people don’t have a mother’s on mother day”
Nella tersentak dan terdiam. Perkataan nya begitu tajam dan jujur. Ia tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Kelvin. Sesaat ia merenung dan berpikir, ia baru menyadari apa yang dimaksud Kelvin. Kebahagiaan itu mensyukuri apa yang kita punya. Bahkan ia lupa kalau hari itu adalah hari Ibu.
“Kelvin benar, seharus nya aku tidak seperti ini. Seharus nya aku lebih bersyukur” Dalam hati Nella berkata.
Nella menatap Kelvin. Senyum simpul terpancar dari bibir nya. “Terima kasih, Kelvin”


 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! www.thebaybali.com




1 komentar:

  1. "Some people don't have a mother on mother's day"

    Maaf karena kurang teliti, kalimat di atas itu penulisan nya salah.
    Terima kasih. Sekian

    BalasHapus