Kantin mulai
terlihat ramai. Udara panas Bali rupa nya menambah panas suasana hati seseorang
yang berada di ujung ruangan. Terlihat Nella wanita tomboy dengan rambut pendek
nya memasang raut muka yang penuh kejengkelan. Sudah 10 menit berlalu sejak bel
tanda istirahat berbunyi ia hanya duduk diam melihat Kelvin, pria blasteran
indo – belanda menanggapi wanita – wanita yang sedari tadi mencoba mendapatkan
perhatian nya.
“Apakah
kau memanggil ku hanya untuk melihat mu dengan fans-fans fanatik mu ini?!” kata
Nella sambil melempar potongan pangsit
yang baru saja dimakan nya mengenai kepala Kelvin.
“Hei, ada
apa dengan mu?!” jawab nya sambil meminta para wanita itu untuk pergi. Logat
dari darah keturunan barat nya masih sedikit terdengar.
Sejak
acara festival band minggu lalu hingga sekarang Kelvin dan teman-teman nya jadi
incaran para wanita. Band nya terpilih menjadi favorit pilihan penonton. Dia adalah
teman Nella sejak kecil, orang tua mereka juga sudah akrab satu sama lain. Wajah
nya juga bisa dibilang tampan, sesuai kriteria wanita – wanita yang menyukai
pria tampan.
“Tidak
ada kah cara yang lebih lembut, selain melempari ku dengan… pangsit?” Sambil membersihkan
serpihan pangsit yang berhamburan di baju nya.
“Mungkin lain
kali aku akan melempar mu dengan mangkok nya!” sahut nya jengkel. “Lalu apa
tujuan mu memanggilku?”
“Ah betul
juga, nanti sore kau ada rencana pergi?”
“Tidak
ada, lalu?”
“Di depan
toko buku sedang ada pembukaan Café baru, ah aku yakin mereka punya menu yang
spesial” kata Kelvin
Nella
menyipitkan mata nya. Ia mengerti ada maksud tersirat Kelvin mengiming – imingi
nya dengan pembukaan sebuah café. Cara lama yang selalu ia pakai untuk membujuk
Nella. “Sudahlah, katakan saja apa mau mu?”
“Ah rupa
nya kau mengerti!” ekspresi senang terlihat di wajah Kelvin “Temani aku mencari
pakaian untuk dance party besok
malam”
Tepat
seperti dugaan nya. Akhir – akhir ini, pesta dansa yang di adakan oleh
Universitas mereka sedang ramai dibicarakan. Acara yang di adakan setahun
sekali ini memang selalu populer.
“Oh,
kapan?” tanya nya datar
“Jam 3,
nanti aku akan menjemput mu” jawab Kelvin “By
the way, siapa pria yang sudah mengajak mu untuk acara besok?
“Tidak
ada” sambil menghabiskan minum nya “Kau sendiri? Masih dengan Angel?”
“Maybe”
“Ada apa? Kau
sudah mengajak nya bukan?” Nella seperti
ingin mencari tahu lebih
“Ah sudahlah,” Kelvin beranjak dari tempat duduk nya “Kau
sudah selesai? Aku akan membayar makanan ini dan kembali ke kelas, ada tugas
yang harus ku kerjakan”
“Yes please”
***
“Hey,
apakah baju ini terlihat pantas untuk ku?” Tanya Kelvin sambil mengukur baju
itu di badan nya. “Menurut mu motif ini bagus kan?”
Nella hanya
mengerutkan dahi nya. Sudah berkali-kali Kelvin keluar masuk ruang ganti tapi
tidak menemukan pakaian yang tepat. Menurut nya semua laki-laki itu sama saja.
Mereka hanya tahu bagaimana cara memakai nya, tapi tidak punya selera yang
bagus terhadap apa yang dipakai nya.
“Tidak” ia
mengambil baju itu dari tangan Kelvin “Tunggulah sebentar, aku akan mencari kan
satu untukmu”
Lalu
Nella memilih satu dari sederet pakaian di samping nya. Ada satu pakaian yang
menurut nya itu akan terlihat cocok dengan Kelvin.
“Cobalah”
Sambil memberikan pakaian itu kepada Kelvin.
“Kau
yakin?” tanya nya
“Ya,
terlihat simple tapi tetap elegan dan stylish”
Kelvin
mengambil pakaian itu dari tangan nella. Mengamati nya lalu mengukur nya.
“Sudahlah,
cepat kau coba” ia mendorong Kelvin untuk masuk ke ruang ganti.
Sambil
menunggu Kelvin, Nella melihat-melihat pakaian wanita yang digantungkan di
sekitar nya. Ia tersenyum melihat pakaian lucu dengan aksesoris yang menempel
disitu. Orang Bali memang pandai dan kreatif dalam menciptakan sesuatu.
“Mbak,
saya mau cari dress dimana ya?” tepukkan tangan seseorang mengejutkan Nella
Ia
mencari arah suara itu. Rupa nya seorang wanita dengan wajah manis Asia, berkulit
putih dengan rambut panjang terurai yang baru saja memasuki butik itu mengira
nya adalah seorang penjaga butik.
“Maaf,
saya tidak tahu. Dan saya bukan seorang penjaga butik ini” Kata nya untuk
meluruskan kesalah pahaman tadi.
“Oh maaf,
maaf. Saya tidak tahu.” Wanita itu menundukkan kepala nya di depan Nella.
“Tidak
apa –apa. Saya mengerti” Senyum Nella kepada wanita itu.
Wanita
itu mengulurkan tangan nya, mencoba memperbaiki suasana “Saya Mika. Rumah saya
tidak terlalu jauh dari sini. Kamu?”
“Nella”
Ia menjabat uluran tangan Mika “Kau sedang mencari apa disini?”
“Oh betul
juga” Mika memukul pelan dahi nya. “Mencari dress”
“Mau aku
bantu? Kebetulan aku sedang menunggu seseorang juga”
“Benarkah?
Tentu saja” Ekspresi senang terpancar
dari wajah Mika.
Beberapa
menit kemudian Kelvin keluar dari ruang ganti dengan baju pilihan Nella. Tangan
nya menarik –narik bagian bawah baju nya. Seakan merasa ragu. “Sudah
pantaskah?” Tapi Nella hilang, tidak ada
di depan ruang ganti. Setelah mencari beberapa lama, ia menemukan Nella dengan
seorang wanita asing sedang mengukur baju di tubuh nya.
“Dasar
wanita” Kelvin hanya menggelengkan kepala nya.
***
Sejuk nya
udara pantai Bali memang menghipnotis siapa pun yang berada disana untuk tetap tinggal dan menikmati nya. Tidak jauh dari
sana ada Restaurant yang menyajizakan makanan sangat lezat. Tepat nya di daerah
Nusa Dua, Kuta Selatan. Dengan latar suasana pantai, Hong Xing menjadikan The
Bay Bali terasa begitu istimewa. Setelah dari butik tadi, mereka memutuskan
untuk beristirahat sebentar disana.
“So,” Kelvin berbicara kepada Mika yang
baru saja dikenal nya beberapa jam yang lalu “Kau hanya tinggal berdua dengan
kakak mu saja?”
Mulut nya
masih mengunyah makanan. Ia lalu mengambil air putih yang berada dia atas meja,
meneguk nya dan mencoba membalas pertanyaan yang diberikan kepada nya.
“Betul.
Sejak Papa ku bercerai, Ibu tinggal di luar negeri bersama dengan pacar baru
nya” Balas nya
“Oh
maaf soal itu. Sebagai orang yang baru
dikenal tidak seharusnya aku mendengar itu”
“Tidak
apa, menurut ku kalian bukan orang yang jahat” Bibir Mika melengkungkan senyuman “Mmm,
ngomong-ngomong makanan ini enak sekali” “Selera mu terhadap makanan bagus”
“Tentu
saja, di The Bay Bali ini selain menyediakan makanan lezat mereka punya banyak
sekali tempat yang bagus. Kadang keluarga ku menghabiskan weekend bermain di The Pirates Bay” “Ah, mungkin lain kali aku akan
mengajak mu makan bebek lezat di Bebek Bengil” Begitu semangat nya ia
bercerita, Kelvin terdengar seperti sedang promosi.
Nella
yang sedari tadi diam mendengarkan kedua orang itu berbicara, akhirnya mulai
bersuara “Kalau aku boleh tahu, untuk siapa kau membeli dress itu” Nella
menunjuk bungkusan di samping Mika
“Oh ini
untuk Ibu ku. Besok ia akan datang ke Indonesia,” ia diam sebentar lalu
melanjutkan “Aku ingin menghadiahi nya sesuatu”
Tiba –
tiba bunyi dering ponsel menyita perhatian mereka. Tatapan mata Mika lalu
tertuju pada tas yang tergeletak di kursi sebelah nya. “Sebentar ya” Mika
menjauh dari meja tempat mereka duduk, setelah sekitar 3 menit ia kembali. “Maaf,
seperti nya aku ada kepentingan lain. Aku tidak bisa berlama-lama disini”
“Oh tidak
apa-apa kita juga sudah selesai disini. Betul kan?” Tangan Kelvin memegang
pundak Nella. Pegangan nya terasa agak keras.
“Tentu
saja, kita juga sudah..,” Seutas senyuman paksa seperti nya sedang di tunjukkan
Nella “Selesai. Iya selesai”
“Biarkan
aku yang membayar semua nya, kau tenang saja” Kelvin begitu antusias
“Terima
kasih. Ini nomor ponsel ku, hubungi aku jika ada waktu luang” Mika menulis kan
nya di tissue.
Setelah
meletakkan nya di meja, Mika lalu meninggalkan mereka berdua. Sosok nya hilang
begitu melewati pintu. Nella mengelus pundak nya. Ia menatap Kelvin dengan
tatapan tajam seperti ingin membalas apa yang di lakukan dia kepada nya. Tapi
Kelvin yang melihat Nella seperti itu hanya cengengesan. “hehehe maaf”
***
Nella
merebahkan tubuh nya ditempat tidur. Mengejap kan mata nya sejenak. Ia lelah
setelah hari ini menemani Kelvin. Tapi perasaan nya tidak baik, ia terus
memikirkan sesuatu. Nella lalu beranjak, berjalan menuju meja rias nya. Ia
bercermin. Tangan nya menyetuh bagian atas tubuh nya, pipi. “Apa aku kurang
menarik?” Ia berbicara pada cermin di depan nya lalu menatap meja. Hanya ada
sekotak peralatan rias yang masih tersimpan rapi. Belum pernah tersentuh. “Apa
yang membedakan aku dengan wanita lain nya? Apa semua pria menyukai wanita yang
feminim?” Besok adalah hari pesta dansa. Tentu nya sebagai wanita, ia iri
melihat wanita lain sudah mendapat pasangan di hari itu.
Nella
lalu meraih kotak peralatan rias itu. Membuka nya lalu mengambil satu per satu
alat rias. Ia hanya diam. Bahkan untuk berias saja dia tidak bisa. Dilempar nya
kotak itu ke lantai, lalu ia kembali merebahkan diri nya di tempat tidur.
***
Suasana
di ruangan itu mulai penuh dan ramai. Glamour nya pesta dansa itu terlihat
seperti seluruh orang yang berada disana layak nya Prince and Princess dunia Disney. Semua terlihat anggun dan
menawan. Diiringi alunan musik romantis begitu membuat semua nya terasa
sempurna.
Kelvin
mengangkat gelas nya, meneguk minuman yang sedari tadi di genggam nya. Mata nya
menatap setiap sudut ruangan mencari seseorang, sahabat nya. Nella belum juga
terlihat diantara kerumunan ini.
“Kau
melihat Nella?” Tanya nya pada George seorang teman yang berada di samping nya.
“Tidak”
Jawab nya
“Oh, thank
you”
Ia lalu
keluar dari ruangan. Tangan nya meraih ponsel dari saku celana nya, mencoba menghubungi
Nella. “Sial” tapi ponsel nya tidak bisa di hubungi.
***
Ia
berjalan menyusuri tepian pantai, diiringi dengan mentari senja di ufuk barat.
Pasir dan air laut membuat gaun nya terasa basah dan ternoda. Ia tidak perduli,
hanya terus berjalan dan kemudian memilih duduk di bangku kosong di dekat nya.
Mata nya
sendu. Sejauh pandangan nya ia hanya melihat beberapa orang melakukan aktivitas
pantai di sore hari, dan sekumpulan keluarga yang sedang menghabiskan waktu nya
disana. Senang nya.
“Kenapa
semua orang terlihat bahagia, saat aku tidak” ia cemburu
Belum
lama ia terbawa oleh suasana, tepukan pundak seseorang membuat kesadaran nya
kembali.
“Nella, what are you doing here?” Sapa orang itu
dengan logat khas orang barat. Suara itu begitu familiar di telinga nya.
“Kelvin?”
Ia menoleh “Apa yang kau lakukan disini?”
“Sejak
tadi aku mencari mu, aku khawatir karena kau belum juga hadir di pesta dansa”
“Oh”
“Kenapa
kau tidak mengikuti pesta nya? Disana sudah mulai ramai” Tanya nya
“Pesta
hanya untuk orang yang sedang bahagia. Aku tidak”
“Maksud
mu?” Kelvin mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Nella
“Aku
tidak punya pasangan, tidak ada yang mau berdansa dengan ku” Jawab nya lirih.
Tatapan nya tertuju kedepan, pada matahari yang hampir terbenam.
Kelvin
hanya tersenyum mendengar perkataan nya. Ia lalu duduk di samping Nella. Ikut
menyaksikan redup nya sang mentari.
“Apa kau
tahu, hari ini tepat 5 tahun ibu ku meninggal. Pergi untuk selama nya”
Nella
menatap Kelvin, terlihat bingung dengan apa yang di katakan nya.
“Kau
ingat sekarang tanggal berapa?”
Ia
semakin tidak mengerti apa maksud dari perkataan nya. Ia hanya menjawab sekena
nya
“22
Desember”
Kelvin
lalu menoleh. Menatap Nella dalam.
“Kau
tidak bahagia hanya karena kau tidak memiliki pasangan di hari pesta dansa. Some people don’t have a mother’s on mother
day”
Nella
tersentak dan terdiam. Perkataan nya begitu tajam dan jujur. Ia tidak percaya
kata-kata itu keluar dari mulut Kelvin. Sesaat ia merenung dan berpikir, ia
baru menyadari apa yang dimaksud Kelvin. Kebahagiaan itu mensyukuri apa yang
kita punya. Bahkan ia lupa kalau hari itu adalah hari Ibu.
“Kelvin
benar, seharus nya aku tidak seperti ini. Seharus nya aku lebih bersyukur”
Dalam hati Nella berkata.
Nella
menatap Kelvin. Senyum simpul terpancar dari bibir nya. “Terima kasih, Kelvin”
"Some people don't have a mother on mother's day"
BalasHapusMaaf karena kurang teliti, kalimat di atas itu penulisan nya salah.
Terima kasih. Sekian